KENDARI, Tirtamedia.id – PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) Persero terus berupaya menjalankan sejumlah langkah strategis, sebagai upaya mengakselerasi transisi energi guna mencapai target Net Zero Emission (NZE) pada 2060.
Direktur Keuangan PLN, Sinthya Roesly mengatakan untuk mencapai target tersebut, pihaknya telah menentukan sejumlah langkah (misi) yang bakal dilakukan yakni program fase jangka pendek, menengah dan jangka panjang.
Hal itu dikatakan Sinthya Roesly saat menghadiri agenda diskusi Financing for Energy Transition Konferensi Perubahan Iklim, yang digelar di Sharm El Sheikh, Mesir pada Minggu (06/11/2022).
Sinthya Roesly menyampaikan untuk jangka menengah, pada periode 2031-2060, PLN akan melakukan beberapa langkah seperti menyiapkan penyimpanan baterai untuk menunjang pembangkit yang lebih ramah lingkungan.
Semetara untuk jangka panjang PLN membangun teknologi dan ekosistem untuk mendukung energi bersih, seperti penggunaan kendaraan listrik atau penyediaan sertifikat energi terbarukan atau Renewable Energy Certificate.
“Jadi kami akan mengembangkan ekosistem membangun kemampuan teknologi baru, dan itu membutuhkan investasi lebih dari USD 700 miliar untuk mencapai NZE pada tahun 2060 mendatang,” ungkapnya.
Dari segi pembiayaan, lanjutnya, PLN telah mendapatkan kepercayaan dari lembaga keuangan untuk mengamankan keberlanjutan program transisi energi. Namun karena kebutuhan anggaran yang cukup besar, PLN tetap memerlukan dukungan tambahan untuk mencapai NZE.
PLN bersama pemerintah Indonesia juga telah menerbitkan dokumen pernyataan kehendak, atas kerangka kerja pembiayaan berkelanjutan sebagai salah satu strategi perseroan untuk mendapatkan Green Financing melalui skema Energy Transition Mechanism (ETM).
“Kita juga telah mendapatkan dukungan finansial sebesar USD 500 juta dari perbankan internasional, dengan mendapatkan jaminan dari Multilateral Investment Guarantee Agency (MIGA) yang merupakan anggota dari Grup Bank Dunia,” katanya.
Selain itu, PLN juga memperoleh pembiayaan dari program Sustainable and Reliable Energy Access Program Asian Development Bank (ADB) sebesar USD 600 juta, serta dana pinjaman sebesar USD 610 juta dari World Bank.
Bantuan itu akan dialokasikan untuk proyek pumped storage Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) sebesar 1.040 MW. Proyek ini merupakan pilot project PLN dalam pengembangan PLTA pumped storage di Indonesia.
“PLN pun telah menyelesaikan kerangka keuangan hijaunya untuk fasilitas green loan sebesar USD 750 juta dengan beberapa bank internasional. Berikutnya, PLN akan menyusun ESG Framework dan ESG Linked Financing,” ungkap Sinthya.
Sinthya mengungkapkan dukungan juga diperlukan dalam Early Retirement PLTU, sebagai salah satu upaya mengakselerasi penurunan emisi. Selain dukungan biaya, dibutuhkan kerangka kebijakan yang mengatur serta jaminan ketahanan energi, dan mekanisme perdagangan atau pasar karbon.
“Kami selalu terbuka atas peluang kerja sama. Baik skema investasi maupun pengembangan teknologi untuk mengakselerasi tercapainya target NZE. Kami terus membuka diskusi dengan semua mitra bisnis, dengan dukungan penuh pemerintah Indonesia sebagai komitmen nyata Indonesia dalam menurunkan emisi karbon global,” tutupnya.
Penulis : Husni Mubarak







