KENDARI, tirtamedia.id – Kurun waktu satu bulan, harga beras jenis premium dan beras jenis medium di sejumlah ritel dan pasar tradisional di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra) meroket.
Pedagang beras menyebutkan kenaikan harga diakibatkan kurangnya hasil panen petani serta sebagian beras di penampungan dijual ke luar Sulawesi.
Rida (47) pedagang beras di Pasar Basah Mandonga Kendari mengungkapkan harga beras premium 50 kilo gram kini naik menjadi Rp800 ribu dibanding harga normal Rp650 ribu pada bulan kemarin.
Beras jenis medium dijual pedagang dengan harga Rp12 ribu per liter naik Rp16 ribu. Stok beras di penampungan sulit didapatkan, karena panen yang kurang serta sebagian di jual ke wilayah Jawa.
“Biasanya kita ambil itu di tempat penampungan, sekarang sudah setengah mati karena kurang tidak ada lagi panen. Satu bulan ini harga beras naik, susah karena sebagian di beli di bawa ke Jawa,” katanya Jumat (23/02/2024).
Menurut pedagang meski harga naik penjualan masih normal, tetapi banyak konsumen (masyarakat) beralih ke beras Bulog. Beras subsidi dari pemerintah ini lebih keras dari jenis beras yang meroket sebulan terakhir di Kota Kendari.
“Alhamdulilah kalau pembeli itu masih seperti biasa, tapi banyak pembeli beralih ke beras Bulog subsidi yang teksturnya lebih keras dan harganya masih normal Rp8 ribu per liter,” ungkap Meri salah satu pedagang di bilangan Mandonga.
Kenaikan harga beras juga terjadi pada beras merah dan beras ketan lokal. Umumnya pedagang menjual dengan harga Rp12 ribu per liter naik Rp18 ribu untuk beras merah dan beras ketan dari Rp12 ribu naik hingga Rp22 ribu per liter.
Pedagang berharap pemerintah secepatnya mengambil langkah untuk mengatasi kelangkaan beras di tempat penampungan, distributor yang berdampak pada kenaikan harga beras.
Reporter : Husni Mubarak.







