Oleh : Awaludin Sisila*
Hari ini tanggal 10 November adalah hari pahlawan. Hari dimana Kita semua diseantero negeri, secara nasional memperingati dan mengenang kembali jasa-jasa para pahlawan yg telah banyak berkurban bagi bangsa dan negara, dengan merayakan hari pahlawan.
Alhamdulillah untuk pertama kalinya setelah 77 tahun Indonesia Merdeka, Kita di Provinsi Sulawesi Tenggara sudah mempunyai Pahlawan Nasional. Namanya La Karambau yang bergelar Sultan Himayatuddin Muhammad Saidi atau Oputa Yi Ko. Yang bersama dengan 6 orang lainnya pada tanggal 7 November tahun 2019 Ia diangkat menjadi Pahlawan Nasional oleh Presiden Jokowi melalui Keppres Nomor 120/TK/2019.
Gelar kepahlawanan diberikan Negara kepada Oputa Yi Ko karena Ia meninggalkan Istana memimpin perlawanan rakyat Buton mengobarkan perang Semesta (gerilya) terhadap penjajah Belanda, dalam perang Buton pada tahun 1755.
Selain berperang, Ia juga menolak segala bentuk perjanjian dan kerjasama dengan Belanda. Dan sebagai bentuk protes terhadap penjajah Ia tidak mau tinggal di Istana, dan bermukim hingga wafat di puncak gunung Siontapina (kampung Wasuamba).
Sikap Oputa Yi Ko yang rela berkorban demi untuk kemerdekaan dan rakyat sangat patut untuk Kita teladani dan praktekkan dalam pengelolaan daerah Kita di Sultra tercinta ini. Karena menurut hemat penulis disitulah terletak pemaknaan dan perwujudan rasa cinta Kita kepada para Pahlawan yang telah mendahului Kita.
Bukan hanya dengan membuat patung yang menghabiskan dana puluhan milyard dan berencana membangunnya di semua Kabupaten/Kota.
Selain karena kebetulan sama-sama orang Sultra saja, menurut Saya apa yang dipraktekkan oleh Rezim Ali Mazi-Lukman dalam mengelola daerah Kita saat ini sangatlah jauh berbeda dengan nilai-nilai yang diwariskan Oputa Yi Ko.
Dengan logika samin (keharfiaan) saja Kita bisa membuat perbandingan antara Oputa Yi Ko dan Ali Mazi. Misalnya, Oputa Yi Ko memilih meninggalkan Istana Pemerintahannya, Ali Mazi memilih membangun Istana (rujab), dengan membuat pagar, menimbun kolam, mengaspal anggaran ratusan milyard.
Oputa Yi Ko menghabiskan waktunya di Gunung Siontapina bersama rakyat, Ali Mazi lebih banyak menghabiskan waktunya dirujab bersama para pejabat dan pembisiknya. Oputa Yi Ko memilih ‘berkantor’ di Gunung Siontapina, Ali Mazi memilih membangun kantornya dengan dana 400 milyard yang justru jarang Ia masuki.
Oputa Yi Ko membuang segala kenyamanannya sebagai Sultan, Ali Mazi justru membangun segala kenyamanannya sebagai Gubernur. Ia dengan untuk dan atas nama pembangunan, justru banyak menghamburkan untuk rakyat (APBD) hanya untuk memastikan eksistensi dan kenyamanannya sebagai Gubernur.
Untuk itu ditengah Kita merayakan hari pahlawan ini mungkin tepat jikalau gubernur Ali Mazi lebih condong memikirkan pembangunan yang ada asas manfaatnya bagi masyakat Sultra sehingga anggaran yang begitu besar setiap tahunya dapat di nikmati bagi masyarakat sultra secara keseluruhan.







