Bahkan, untuk biaya selama Pelatda para atlet dan pelatih terpaksa harus menggunakan uang pribadi untuk digunakan membeli makan, minum, hingga menyewa sebuah rumah untuk tempat tinggal di sekitar lokasi latihan.
“Selama pelatda kami harus mandiri, artinya bayar sendiri sendiri. Bahkan rumah yang kita kontrak selama latihan terpaksa harus patung- patungan,” ujar Julianti, Atlet dayung Sultra, Selasa 24 Agustus 2021.
Menurut Julianti, hal tersebut dilakukan lantaran sampai saat ini KONI Sultra belum memberikan anggaran apapun selama pelaksanaan Pelatda.
“Belum ada, biaya transport, uang makan dan penginapan kami bayar sendiri,” ungkapnya.
Peraih medali Emas Sea Games Vietnam 2019 ini menjelaskan, anggaran pelatda untuk mereka kerapkali dipertanyakan ke KONI dan Satgas PON Sultra, namun jawaban yang mereka terima selalu diminta menunggu realiasasi dan bersabar.
“Kami tidak tau kenapa ditahan tahan, kita hanya diminta bersabar dan menunggu, pahadal yang kami minta hanya hak kami, bukan hak orang lain,” ujarnya.
Bersama rekan dan pelatih, Julianti memilih bertahan di Jawa Barat karena perlengkapan latihan seperti perahu jauh lebih baik dibanding yang disiapkan oleh KONI Sultra yang dinilai tidak sesuai dengan kebutuhan dan tidak standard. Sehingga mempengaruhi efektivitas pemusatan latihan.
“Infonya mau dibelikan perahu latihan dan perahu tanding, tapi nyatanya tidak ada. Mereka saja di sana harus bergantian gunakan perahu saat latihan, jadi kami memilih disini kebetulan pelatih pelatnas juga masih mengisinkan menggunakan perahu latihan,” tegasnya.
Julianti berharap, pihak terkait dapat segera membantu biaya selama Pelatda di Jabar, sebab cabang olahraga dayung menjadi pemasok medali terbanyak untuk kontingan Sulawesi Tenggara disetiap Pekan Olahraga Nasional (PON).
Sebelumnya, puluhan atlet dan pelatih yang menjalani pemusatan latihan daerah (Pelatda) jelang PON Papua mengamuk di kantor KONI Sultra, mereka mempertanyakan uang saku yang belum dibayarkan selama empat bulan.







