Kanker payudara merupakan suatu jenis tumor ganas yang berkembang pada sel-sel payudara. Kanker ini dapat tumbuh jika terjadi pertumbuhan yang abnormal dari sel-sel pada payudara.
Sel-sel tersebut membelah diri lebih cepat dari sel normal dan berakumulasi yang kemudian membentuk benjolan atau massa. Pada stadium yang lebih parah, sel-sel abnormal ini dapat menyebar melalui kelenjar getah bening ke organ tubuh lainnya
Kanker payudara merupakan penyakit dengan prevalensi cukup tinggi di dunia, begitu juga di Indonesia. Kanker payudara menduduki tempat nomor dua dari insiden semua tipe kanker di dunia.
Berdasarkan survei yang telah dilakukan WHO menyatakan bahwa 8-9 persen wanita mengalami kanker payudara. Kanker ini merupakan salah satu penyebab utama kematian, sebanyak 8,2 juta orang meninggal akibat kanker (Kemenkes RI, 2015; WHO, 2014).
Tingginya kematian akibat dari kanker payudara ini terutama di Indonesia, disebabkan karena bertambahnya usia, paling banyak terjadi pada umur diatas 35 tahun. Tetapi sekarang ini usia mudah juga bisa terkena kanker payudara, faktor tersebut disebabkan karena gaya hidup remaja yang tidak sehat. Seperti diet yang berlebihan, merokok, minum-minuman beralkohol dan tidak memperdulikan kesehatan payudara.
Faktor terbesar yang menyebabkan tingginya kematian akibat kanker payudara di Indonesia adalah karena kurangnya informasi dan edukasi sejak remaja dalam mendeteksi dan menangani kanker payudara secara dini. Tidak sedikit dari mereka yang terkena kanker payudara, datang berobat ketika penyakitnya sudah parah sehingga biaya pengobatannya sangat mahal.
Hal tersebut menunjukan pentingnya mendeteksi kanker sedini mungkin. Deteksi dini yang dapat dilakukan yaitu dengan pemeriksaan payudara sendiri (SADARI).
SADARI sebagai bentuk kepedulian seorang wanita terhadap kondisi kesehatannya terutama terhadap payudaranya sendiri. Kegiatan ini sangat sederhana dan dapat dilakukan oleh semua wanita tanpa perlu merasa malu kepada pemeriksa, tidak membutuhkan biaya, dan bagi wanita yang sibuk hanya perlu menyediakan waktunya selama kurang lebih 5 menit.
Berikut langkah-langkah dari Yayasan Kanker Indonesia yang bisa Anda ikuti saat melakukan SADARI 7-10 hari setelah menstruasi:
1. Berdiri tegak. Cermati bila ada perubahan pada bentuk dan permukaan kulit payudara, pembengkakan dan/atau perubahan pada puting. Bentuk payudara kanan dan kiri tidak simetris? Jangan cemas, itu biasa.
2. Angkat kedua lengan ke atas, tekuk siku dan posisikan tangan di belakang kepala. dorong siku ke depan dan cermati payudara; dan dorong siku ke belakang dan cermati bentuk maupun ukuran payudara.
3. Posisikan kedua tangan pada pinggang, condongkan bahu ke depan sehingga payudara menggantung, dan dorong kedua siku ke depan, lalu kencangkan (kontraksikan) otot dada Anda.
4. Angkat lengan kiri ke atas, dan tekuk siku sehingga tangan kiri memegang bagian atas punggung. Dengan menggunakan ujung jari tangan kanan, raba dan tekan area payudara, serta cermati seluruh bagian payudara kiri hingga ke area ketiak. Lakukan gerakan atas-bawah, gerakan lingkaran dan gerakan lurus dari arah tepi payudara ke puting, dan sebaliknya. Ulangi gerakan yang sama pada payudara kanan Anda.
5. Cubit kedua puting. Cermati bila ada cairan yang keluar dari puting. Berkonsultasilah ke dokter seandainya hal itu terjadi.
6. Pada posisi tiduran, letakkan bantal di bawah pundak kanan. Angkat lengan ke atas. Cermati payudara kanan dan lakukan tiga pola gerakan seperti sebelumnya. Dengan menggunakan ujung jari-jari, tekan-tekan seluruh bagian payudara hingga ke sekitar ketiak.
Semoga artikel ini dapat menambah wawasan kita, terutama bagi remaja agar bisa terhindar dari kanker payudara sedini mungkin, dengan pemeriksaan payudara sendiri (SEDARI) dan membiasakan hidup sehat.
Oleh, Rubiani, Mahasiswi Jurusan D-III Teknologi Laboratorium Medik Poltekkes Kemenkes Kendari.







