KENDARI, tirtamedia.id – Kebijakan pemerintah dalam mengantisipasi penyebaran dan penularan COVID-19 di Kota Kendari membuat sejumlah masyarakat yang sehari-hari menyediakan jasa angkutan umum sebagai penghasilan/pendapatan, kini menjadi berkurang atau menurun.
Baik angkatan kota (pete-pete, masyarakat Kota Kendari menyebutnya), tukang ojeg hingga becak.
Para tukang becak misalnya, dengan diterapkannya pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM), mereka mengaku kesulitan untuk mendapatkan penghasilan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.
La Desa (56) misalnya, tukang becak yang setiap harinya mangkal disekitaran pasar sentral kota lama dan tempat pelelangan ikan baypas Kota Kendari ini, mengaku kesulitan untuk mendapatkan penumpang. Hal itu berbanding terbalik dengan kondisi sebelum adanya COVID-19 dan pemberlakuan PPKM di Kota Kendari.
“Setelah adanya pandemi COVID-19 ini, susah sekali dapat penumpang, satu hari itu untung-untungan dapat satu atau dua orang, beda dengan kemarin sebelum COVID-19,” ungkapnya, Senin (29/11/2021).
Lanjut La Desa, kondisi tersebut membuatnya kesulitan untuk mendapatkan penghasilan sehari-hari, sehingga untuk menyambung hidup dia mengaku terpaksa harus mencari barang rongsokan (mulung) untuk dijual sebagai tambahan penghasilan.
Hal yang sama juga diungkapkan La Bolo (39), tukang becak asal Abeli Kota Kendari, selain berprofesi sebagai tukang becak dia juga harus bekerja sebagai kuli bangunan untuk memperoleh penghasilan agar dapat menafkahi keluarganya.
“Kalau dulu sebelum covid penghasilannya bisa dapat 80 sampai 90 ribu perhari, sekarang susah, Paling 20 atau 30 ribuan saja, bahkan juga tidak ada sama sekali. Jadi untuk mencari penghasilan tambahan dan menafkahi keluarga saya harus mencari pekerjaan lain atau menjadi kuli bangunan,” katanya.
Mereka berharap, pandemi COVID-19 di Kota Kendari dapat segera berakhir, sehingga mereka bisa kembali bekerja dan mendapatkan penghasilan seperti semula sebelum masa pandemi Covid-19.
Penulis : Husni Mubarak







