Buton Utara, tirtamedia.id – Beredar narasi hoax diembuskan pihak tertentu untuk memecah belah keharmonisan Bupati dan Wakil Bupati Buton Utara, Afirudin Mathara – Rahman.
Menurut Juru Bicara Media Center AMAN, Julman Hijrah, narasi hoax ini disebarluaskan di media sosial Facebook. Dalam unggahan itu, dinarasikan seolah olah ada serangan politik dari lingkaran Wakil Bupati terhadap Bupati.
Julman menilai, narasi hoax yang sengaja disebarluaskan pihak tertentu ini merupakan upaya adu domba demi kepentingan politik praktis dan sakit hati karena ketidakikhlasan daerah Buton Utara, dipimpin pasangan Afirudin – Rahman.
“Isu sopir wakil bupati dan kader partai Wakil Bupati serta loyalis Bupati sendiri seolah menyerang personal Bupati terkait pengangkatan eselon II.b adalah tidak benar dan fitnah yang mengarah pada upaya adu domba,” ujar Julman, Selasa (19/5/2026).
Selain itu, kelompok politik praktis melalui buzzer mereka mencoba menghayalkan seolah Bupati dan Wakil Bupati Buton Utara terjadi perpecaham secara internal. Tindakan tersebut kata Julman, lebih kepada penggiringan opini publik melalui media sosial demi hawa nafsu dan birahi politik.
“Ada upaya penggiringan opini yang dilakukan kelompok elit politik dengan mencoba mengurai seolah Bupati Afirudin dan wakil bupati Rahman sudah pecah kongsi, menurut saya mereka sudah kehabisan isu untuk menjatuhkan martabat pemerintahan dan daerah dengan melabeli kegagalan kepemimpinan di Buton Utara sehingga mereka menyerang personal Bupati maupun Wakil Bupati sendiri,” jelasnya.
Dia mengatakan, pihak Media Center AMAN terus memantau perkembangan di media sosial selama beberapa bulan terakhir.
“Setelah problem jalan di Buton Utara yang tiada hentinya dari periode ke periode pemerintahan yang terus digenjot penyelesaiannya oleh Bupati Afirudin bersama wakilnya Rahman, sekarang mereka beralih isu dengan menyerang pribadi dan mengadu domba kekuatan Afirudin-Rahman dengan cara membenturkan atau mengadu domba antar tokoh-tokoh pendukung AMAN,” katanya.
Julman menyebut, serangan seperti ini merupakan cara-cara kampungan atau cara lama yang dihidupkan kembali. Mereka tidak menyadari apa yang dilakukan ini sama halnya sedang merancang daerah Buton Utara, tidak berkembang dan bahkan berada dalam kemunduran, atau sedang membuat rugi masyarakat dan daerah.
Menurutnya, Isu ini sengaja dirancang untuk menciptakan ketidakstabilan di pemerintahan daerah. Namun fakta di lapangan menunjukkan kondisi yang berbeda.
“Di saat Afirudin-Rahman sedang berupaya memperbaiki daerah ini dengan melakukan pembangunan dan menstabilkan kondisi ekonomi masyarakat meskipun di tengah kebijakan fiskal nasional, ternyata dimanfaatkan oleh elit politik untuk membuka ruang konsolidasi seolah kepemimpinan ini rapuh dan gagal dalam membangun Buton Utara,” kata Julman.
Terkait cara penyebaran informasi hoax ini, Julman, mengungkapkan ada dua metode yang digunakan yakni, melalui media sosial menggunakan akun anonim untuk menggiring opini seolah Bupati dan Wakil Bupati Buton Utara, Afirudin – Rahman, serta para tokoh pendukungnya sudah pecah kongsi.
Kedua, melalui luring (luar jaringan) atau offline, disebarkan isu melalui rekomendasi dari mulut ke mulut. Cara ini menurut Julman, dilakukan sebagai bentuk legitimasi atau follow up untuk menegaskan bahwa isu yang beredar di media sosial, benar.
Julman menyebut, cara-cara ini keji, dan tidak memiliki paradigma serta mindset berpikir membangun daerah Buton Utara. Jika pola-pola seperti ini tidak segera dihentikan akan merugikan daerah.
Dia mengingatkan kepada pihak yang berupaya melakukan adu domba, bahwa ada saatnya pertarungan politik yang diatur oleh Undang-undang.
Harusnya, yang dilakukan saat ini adalah mengawal jalannya pemerintahan dan mengingatkan arah pembangunan serta kebijakan ekonomi daerah, bukan melakukan cara busuk mengadu domba antar tokoh di Buton Utara.
“Saran saya sebaiknya perbaiki niat karena daerah ini adalah milik bersama. Selain itu kami mengimbau kepada seluruh masyarakat Buton Utara agar tidak terprovokasi dengan isu-isu murahan yang justru memecah persatuan dan kesatuan antar sesama anak daerah,” ujar Julman.
Redaksi







