KENDARI, tirtamedia.id – Rapat Dengar Pendapat (RDP) yang berakhir ricuh antara Anggota Dewan dan peserta sidang di Kantor DPRD Sulawesi Tenggara (Sultra) ternyata diawali ulah salah satu anggota dewan yakni Ketua Komisi 1 Sharul Said yang memukul meja usai sidang.
Hal itu diungkapkan oleh Ketua Eksekutif Liga Mahasiswa Nasional Untuk Demokrasi (EK-LMND) Sulawesi Tenggara, Halim, saat dikonfirmasi pada Senin (15/05/2023) malam.
Halim yang diundang sebagai salah satu peserta sidang saat rapat dengar pendapat tersebut mengaku awalnya rapat bersama warga Konawe Utara yang menuntut hak atas ganti rugi lahan di kawasan PT Tiran berjalan baik dan kondusif.
Menurut Halim RDP dipimpin oleh Ketua Komisi III Suwandi Andi dan Ketua Komisi I Syahrul Said DPRD Sulawesi Tenggara yang dihadiri masyarakat selaku pemilik lahan serta Humas PT Tiran Indonesia La Pili.
“Pada saat di skorsing ini rapat oleh pimpinan sampai batas waktu yang ditentukan bubar lah kita saat itu. Dan saat mau bubar tiba-tiba salah satu anggota pimpinan sidang atas nama Syahrul Said ini memukul meja,” katanya.
Halim mengaku belum mengetahui alasan Syahrul Said bersikap arogan berdiri dan memukul meja di hadapan peserta sidang usai sidang diskors, namun menurutnya hal itu tidak pantas dilakukan oleh seorang wakil rakyat yang seharusnya berpihak kepada rakyat.
“Saat dia berdiri dan memukul meja saat itu masyarakat mempertanyakan kenapa sampai melakukan hal itu. Karena itu kami anggap tidak etis sebagai seorang anggota DPR kemudian ada masyarakat pemilik lahan yang seharusnya mereka lah yang akan marah pada saat itu, nah ini terbalik kenapa anggota DPR yang marah,” ucapnya.
Halim menuturkan rapat di hentikan atau diskors sementara oleh Ketua Komisi III Suwandi Andi saat terjadi perdebatan dimana peserta sidang belum menemui kesepakatan dan jawaban pasti yang diberikan oleh anggota dewan dalam rapat dengar pendapat tersebut.
“Itu ditutup sidangnya pada saat kita lagi sementara rapat, sementara berdebat. Dan itu dalam videonya Ketua sidangnya langsung menutup sidang tiba-tiba itu pa Syahrul Said kita tidak tau penyebabnya apa dari tadi juga tidak bicara apa-apa dia langsung berdiri dan hantam meja,” bebernya.
Dalam video keributan itu juga memperlihatkan pimpinan sidang Suwandi Andi terlibat cekcok dan menunjuk-nunjuk salah seorang wanita yang diketahui merupakan peserta sidang rapat dengar pendapat yang digelar pada Senin (15/05/2023).
“Ada salah satu perempuan yang tergabung dalam gerakannya kita ikut juga tadi. Dia mempertanyakan kenapa DPRD ini arogan begini. Karena emosi terkait pemukulan meja. Tiba-tiba kembalilah Pa Suwandi dengan menunjuk-nunjuk seolah-olah tangannya ini mau menampar jelas sekali di video itu,” pungkasnya.
Sementara itu Suwandi Andi saat dikonfirmasi membantah tudingan tersebut, dia beralasan hanya melakukan upaya melerai sebab yang bersangkutan (perempuan) memukul meja dan melontarkan kata kasar.
“Soal perempuan itu karena dia pukul meja, saya bilang jangan ko pukul meja tidak boleh. Lalu kemudian dia bilang kurang ajar kamu saya mundur sampai disini saya berdiri saya pegang dia lalu saya lewat, begitu. Sebetulnya tidak ada kejadian apa-apa kalau di saya, saya melerai,” ungkapnya saat ditemui wartawan Selasa (16/05/2023).
Sebagai informasi Rapat Dengar Pendapat atau RDP anatar Anggota DPRD Sulawesi Tenggara dan masyarakat tersebut merupakan rapat pembahasan terkait wacana pembangunan Smelter di Kabupaten Konawe Utara yang tidak direalisasikan oleh PT Tiran Indonesia.
(Penulis : Husni Mubarak/tirtamedia.id).







