MUNA, Tirtamedia.id – Ada yang berbeda dengan seragam sekolah yang ada di Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara (Sultra). Di tingkat Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP), bahkan guru kini wajib mengenakan seragam bermotif Tenun Masalili.
Penggunaan seragam dengan motif Tenun Masalili didasarkan pada Instruksi Bupati Muna No. 3 Tahun 2017 tentang penggunaan seragam sekolah bagi pelajar dengan sentuhan tenun.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Muna, Ashar Dulu mengatakan, pihaknya telah memberlakukan aturan itu sejak tahun 2018 lalu. Tapi, karena pandemi Covid-19 yang melanda, kegiatan belajar mengajar (KBM) tatap muka langsung ditiadakan.
Namun, sejak Februari tahun 2022, KBM kembali dilakukan dengan pembatasan dan penerapan protokol kesehatan Covid-19. Pakaian dengan paduan Tenun Masalili pun menjadi warna baru bagi seluruh pelajar di Muna.
“Iya, kain dasar warna putih dan divariasikan dengan kain tenun pada lengan dan kerah. Dipakai setiap hari Rabu dan Kamis,” katanya via WhatsApp, Sabtu (26/2/2022).
Tak hanya pelajar saja, sejak 24 Februari 2022, semua guru bahkan Aparatur Sipil Negara (ASN) yang ada di Kabupaten Muna juga ikut diwajibkan menggunakan seragam bermotif Tenun Masalili.
Semua itu dilakukan sebagai salah satu cara untuk melestarikan hasil kreatifitas masyarakat di Kecamatan Masalili.
Ashar juga menyampaikan terima kasih kepada Bupati Muna, LM Rusman Emba, karena atas dukungan dan lewat instruksi yang dikeluarkan, Tenun Masalili dibawah binaan Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Muna, Yanti Setiawati terus eksis di mata masyarakat baik tingkat lokal bahkan nasional.
Sementara itu, Ketua Dekranasda Muna, Yanti Setiawati mengaku, pihaknya terus berupaya memperkenalkan hasil karya “Emak-emak” di Masalili ini dalam berbagai event yang dilakukan, terutama melalui event fashion show setiap tahunnya dengan melibatkan TK, SD, SMP, SMA, kecamatan, OPD bahkan masyarakat umumnya.
Bahkan, beberapa waktu lalu, Tenun Masalili juga dikenakan oleh Presiden RI, Ir. Joko Widodo bersama seluruh pejabat negara.
“Kalau Presiden saja sudah mau memakai Tenun Masalili, kita masyarakat Muna penghasil tenun tersebut harus bangga dan wajib menggunakannya juga,” pungkasnya.
Untuk diketahui, Tenun Masalili bermotif “roobu” (rebung) atau bambu muda dan bintang. Roobu dimaknai sebagai salah satu jenis kuliner tradisional yang ada di Kabupaten Muna. Sedangkan, bintang diartikan sebagai derajat tertinggi yang ada di Muna.
Cinderamata suku Muna ini dibuat dari kulit kayu dan pohon kapas yang dipintal menjadi benang, pewarna yang digunakan juga alami dari tumbuhan. Sehingga tenun ini biasa dikenal sebagai pewarna alami, karena dibuat dari racikan daun pohon, kulit dan akar pohon itu sendiri.
Penulis: Herlis Ode Mainuru







