KENDARI, Tirtamedia.id – Tiga tahun memimpin Sulawesi Tenggara, pemerintahan AMAN (Ali Masi – Lukman Abunawas), telah menggelontorkan anggaran untuk tiga mega proyek yang nilainya mencapai Rp1,3 triliun diantaranya pembangunan jalan Toronipa-Kendari, perpustakaan bertaraf internasional serta pembangunan rumah sakit jantung dan pembuluh darah.
Mega proyek pertama adalah pembangunan jalan Toronipa-Kendari. Awalnya, jalan sepanjang 3,4 kilometer menggunakan APBD Sultra tahun 2019 dengan total anggaran 144 milyar.
Pada 2020 lalu, PT Sarana Multi Infrastuktur (SMI) memberikan pinjaman kepada Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara (Pemprov Sultra) senilai Rp799 milyar yang disepakati melalui penandatanganan perjanjian pembiayaan daerah oleh Ali Mazi dan Direktur PT. SMI, Edwin Syahruzad di Jakarta Rabu (22/7/2020).
Setelah adanya pinjaman tersebut, Pemprov Sultra menandatangani kontrak kerja bersama PT PP (Persero) untuk pembangunan jalan Toronipa-Kendari sepanjang 11 kilometer dan akan menghabiskan anggaran sekitar Rp756 miliar.
“Anggaran Rp756 miliar tersebut, akan menyelesaikan pembangunan jalan Kendari -Toronipa sepanjang 11 kilometer dengan lebar jalan 27 meter,” ujar Kepala Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga Sultra, Abdul Karim, sebelum berganti.
Mega proyek kedua adalah perpustakaan bertaraf internasional. Juga merupakan salah satu program unggulan pasangan AMAN yang terletak di Jalan Saosao, Kecamatan Kadia, Kota Kendari, yang menghabiskan anggaran sekitar Rp100 miliar.
“Anggaran pembangunan konstruksi perpustakaan baik tahap pertama dan tahap kedua mencapai Rp100 miliar bersumber dari APBD,” ungkap Kepala Dinas Cipta Karya Bina Konstruksi dan Tata Ruang Provinsi Sulawesi Tenggara, Pahri Yamsul, beberapa waktu lalu.
Dan mega proyek yang ketiga adalah Rumah Sakit (RS) Jantung dan Pembuluh Darah yang berlokasi di eks RSUD Provinsi, dibilangan Jalan Dr. Sam Ratulangi, Kelurahan Kemaraya, Kecamatan Kendari Barat, Kota Kendari.
RS ini pun dibangun dalam dua tahap pengerjaan yakni tahap pertama sebanyak 4 lantai dengan anggaran sekitar Rp90 milyar menggunakan dana APBN.
Untuk tahap keduanya, pemerintah kembali mengajukan peminjaman anggaran sekitar Rp316 miliar dari PT SMI.
“Untuk total anggaran tahap kedua sebesar Rp316 miliar, dan rencananya rampung pda Oktober 2022 mendatang,” ujar Pahri Yamsul.
Konstruksi bangunan itu dibangun sebanyak 17 lantai, beberapa ruangan dari rumah sakit ini akan menjadi ruang belajar bagi mahasiswa pendidikan kedokteran dan kesehatan yang ada di wilayah Sulawesi Tenggara.
Menyikapi sejumlah mega proyek tersebut, Direktur Pusat Kajian dan Advokasi Hak Asasi Manusia (Puspaham) Sultra, Kisran Makati menyebut, dalam 3 tahun kepemimpinan Ali Mazi-Lukman Abunawas, tiga mega proyek pembangunan tersebut dinilainya hanya pemborosan anggaran saja.
Pasalnya, menurut Kisran, pembangunan di Sulawesi Tenggara tidak merata. Hal ini dapat dilihat dengan beberapa aksi unjuk rasa yang kerap dilakukan oleh warga dari daerah kabupaten lain di Sultra, yang memprotes jalan rusak, seperti di Kabupaten Konawe Selatan (Konsel), Muna dan sejumlah daerah lainnya.
“Sebenarnya kita bukannya tidak butuh pembangunan yang mercusuar itu. Tetapi yang terpenting itu bagaimana ada pemerataan pembangunan,” tegasnya melalui sambungan telpon.
Kisran menambahkan, harusnya hal yang mesti dilakukan oleh pemerintahan Ali Mazi dan Lukman Abunawas adalah menjemput aspirasi warga yang butuh perbaikan infrastruktur seperti jalan-jalan yang belum diperbaiki, terlebih sudah puluhan tahun.
“Kalau kita melihat pembangunan perpustakaan, rumah sakit jantung, jalan Toronipa, itu hanya akan dinikmati oleh orang-orang tertentu dikalangan menengah ke atas, tapi masyarakat umum akan jarang merasakan itu,” bebernya.
Kisran mengatakan, masih ada waktu dalam kepemimpinan AMAN, sebaiknya mereka melakukan perbaikan jalan agar masyarakat umum di daerah-daerah bisa menikmati buah dari perjuangan mereka sebelum masa jabatan keduanya berakhir.
Penulis: Herlis Ode Mainuru







