KENDARI, Tirtamedia.id – Sejak pandemi Covid-19 melanda Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), sejumlah pedagang di Kota Kendari menjerit bahkan sampai gulung tikar.
Kondisi itu dialami oleh Hasnida (54) warga Kelurahan Kadia, Kecamatan Kadia, Kota Kendari, Sultra, seorang penjual makanan ringan di Universitas Halu Oleo (UHO).
Ibu beranak empat itu mengatakan, dia menjual di kampus ternama di Sultra itu sejak 2004. Penghasilannya sebelum pandemi Covid-19 mencapai ratusan ribu dalam seharinya.
“Dulu itu sekitar Rp 400 ribu atau Rp 500 ribu dalam sehari. Lumayan lancar dan alhamdulillah bisa saya kasi kuliah tiga anak-anakku,” katanya, Selasa (23/11/2021).
Namun, sejak Maret 2019 lalu atau tepatnya di awal-awal pandemi Covid-19, ia mengaku semua kegiatan belajar mengajar (KBM) tatap muka baik SD, SMP, SMA, Perguruan Tinggi (PT) termasuk UHO belajar via daring. Karena hal itu, tempat jualannya pun terpaksa tutup alias gulung tikar.
Hasnida menyebut, hampir dua tahun dia tidak menjual. Tak ada pemasukan seperti biasanya dan dia hanya menghabiskan waktu di rumah mengurus pekerjaan rumah sambil merawat cucunya.
Untuk bertahan hidup hari-harinya, dia mengandalkan bantuan pundi-pundi rupiah dari anak-anaknya. Tak ingin membebani mereka, Hasnida juga memilih untuk bekerja serabutan dan bersih-bersih di UHO.
“Alhamdulillah, saya syukuri semua yang penting halal,” tambahnya.
Sejak dua bulan terakhir ini, dia kembali membuka lapak jualannya. Namun jumlah mahasiswa yang ikut perkuliahan masih sedikit. Dagangannya juga belum selaris dulu.
“Untung-untungan sekarang ini, dapat Rp 200 ribu dalam sehari. Tapi pernah dalam satu hari itu saya hanya dapat Rp 30 ribu saja. Masalahnya sepi sekali mahasiswa,” paparnya.
Hasnida berharap, pandemi ini segera berlalu agar aktifitas perkuliahan bisa berjalan normal dan pemasukan untuk memenuhi kebutuhan hidup bisa berjalan lancar seperti sedia kala.
Penulis: Herlis Ode Mainuru







