KOLAKA UTARA, Tirtamedia.id – Sejumlah produsen tahu dan tempe di Kabupaten Kolaka Utara (Kolut), Sulawesi Tenggara (Sultra) keluhkan harga kedelai yang terus mengalami kenaikan beberapa pekan terakhir.
Akibatnya, mereka mengalami penurunan omset hingga terpaksa harus bertahan dengan harga jual murah agar tidak kehilangan pelanggan.
Salah satu produsen tahu dan tempe bernama Sugeng mengatakan, kenaikan harga kedelai di tempat itu mencapai 50 persen. Tak ada yang bisa dilakukan, dia hanya bisa pasrah meskipun omsetnya menurun drastis.
“Dulu harga kedelai itu hanya Rp8 ribu tapi saat ini naik sampai Rp 13 ribu per kilonya,” ujarnya, Selasa (22/2/2022).
Sugen menambahkan, pihaknya pernah menaikan harga namun mereka di komplain oleh konsumen. Alasannya, harga mahal apalagi situasi sedang pandemi Covid-19.
Tak ada pilihan lain, demi mempertahankan para pelanggannya, Sugen bersama konsumen Tempa dan Tahu lainnya rela memasang harga rendah demi kepuasan para pelanggannya.
Ditambah lagi kondisi karyawannya yang harus digaji sementara pemasukan berbanding terbalik dengan pengeluaran.
“Sekarang ini kami bertahan saja asalkan karyawan bisa mengerti dengan kondisi karena mau gaji karyawan saja sekarang sangat susah,” bebernya.
Dulunya, mereka bisa mengolah 30 hingga 40 Kilogram kedelai untuk dijadikan Tempe dan 50 Kilogram untuk Tahu. Namun saat ini dirinya hanya dapat mengolah 25 kilo kedelai untuk Tempe dan tiga puluh kilo untuk Tahu.
Pihaknya berharap ada perhatian khusus dari pemerintah, karena apabila harga kedelai terus mahal dan langka, maka industri pembuatan Tahu dan Tempe miliknya terancam gulung tikar.
Penulis: Herlis Ode Mainuru







