Pontianak, tirtamedia.id – Program GreenAbility Eco Bhinneka Muhammadiyah hadir sebagai gerakan konservasi lingkungan yang inklusif dengan melibatkan penyandang disabilitas lintas iman untuk menjaga kelestarian bumi sekaligus membangun kemandirian ekonomi komunitas. Program ini menjadi bagian dari inisiatif Together for People and Planet (ToPP) GreenAbility yang mendorong kolaborasi lintas sektor dalam menghadapi krisis lingkungan.
Melalui berbagai kegiatan pelatihan, penguatan kapasitas, dan kerja kolaboratif komunitas, GreenAbility Eco Bhinneka Muhammadiyah mendorong penyandang disabilitas agar dapat berperan aktif dalam edukasi lingkungan, pengelolaan limbah, hingga kampanye konservasi.
Fasilitator nasional GreenAbility, Intan Mustikasari, menegaskan bahwa pelestarian lingkungan harus berjalan seiring dengan upaya memperluas ruang partisipasi bagi semua orang.
“GreenAbility adalah upaya menguatkan teman-teman disabilitas lintas iman agar mereka bisa berperan aktif dalam konservasi lingkungan sekaligus memperjuangkan kesetaraan akses di masyarakat,” ujar Intan dalam dialog di RRI Pontianak, Sabtu (7/3/2026).
Program GreenAbility Eco Bhinneka Muhammadiyah merupakan pengembangan dari gerakan Eco Bhinneka yang sejak 2021 aktif membangun kolaborasi lintas iman dalam isu lingkungan dan kebinekaan.
Pendekatan tersebut kini diperluas dengan melibatkan komunitas disabilitas sebagai bagian penting dari gerakan konservasi. Dengan konsep konservasi inklusif, program ini menempatkan penyandang disabilitas tidak hanya sebagai penerima manfaat, tetapi juga sebagai penggerak utama perubahan lingkungan.
Pontianak menjadi salah satu lokasi pelaksanaan program selain Jakarta, Bojonegoro di Jawa Timur, serta Manokwari di Papua Barat. Keempat wilayah tersebut dipilih karena memiliki potensi komunitas lokal yang kuat serta ruang kolaborasi lintas sektor yang terbuka.
Di Pontianak, GreenAbility Eco Bhinneka Muhammadiyah mendapat sambutan positif dari berbagai kalangan. Tokoh agama, komunitas pemuda, organisasi masyarakat sipil, hingga komunitas disabilitas menyatakan dukungan untuk terlibat dalam program yang akan berjalan selama tiga tahun ke depan.
Fasilitator nasional lainnya, Windarti, menyebut pendekatan lintas iman menjadi salah satu kekuatan utama program ini dalam membangun solidaritas sosial.
“Melalui pendekatan lingkungan, orang tidak lagi melihat perbedaan agama atau latar belakang. Kita bertemu di ruang yang sama untuk melakukan aksi nyata menjaga bumi bersama,” kata Windarti.
Salah satu fokus kegiatan GreenAbility Eco Bhinneka Muhammadiyah di Pontianak adalah pengelolaan limbah kopi. Kota ini dikenal memiliki budaya warung kopi yang kuat dengan ribuan kedai yang tersebar di berbagai sudut kota.
Melihat potensi tersebut, tim program berencana menggandeng komunitas disabilitas yang telah memiliki usaha berbasis kopi untuk mengembangkan produk turunan dari limbah kopi.
Ampas kopi, misalnya, dapat diolah menjadi sabun organik ramah lingkungan yang memiliki nilai ekonomi. Pendekatan ini juga mendorong praktik ekonomi sirkular yang memanfaatkan limbah menjadi produk bernilai.
“Usahanya sudah ada, seperti kafe yang dikelola teman-teman disabilitas. Kami ingin memperkuatnya dengan perspektif lingkungan, misalnya mengolah limbah kopi menjadi produk ramah lingkungan seperti sabun organik,” jelas Windarti.
Selain pengelolaan limbah, program ini juga akan mendorong kampanye konservasi air. Upaya ini penting mengingat sejumlah saluran air dan parit di Pontianak kerap mengalami penyumbatan yang memicu genangan hingga banjir.
Melalui pelatihan dan aksi sosial, penyandang disabilitas dilibatkan dalam berbagai kegiatan edukasi publik tentang pentingnya menjaga sumber air dan kebersihan lingkungan.
Tidak hanya fokus pada lingkungan, GreenAbility Eco Bhinneka Muhammadiyah juga mengangkat isu kesetaraan hak bagi penyandang disabilitas, termasuk akses terhadap layanan publik, data kependudukan, serta berbagai hak sosial lainnya.
Menurut Intan, penguatan kapasitas menjadi langkah penting agar penyandang disabilitas lebih percaya diri menyuarakan hak-haknya.
“Kami ingin teman-teman disabilitas tidak lagi merasa minder. Mereka harus percaya diri hadir di ruang publik, menyampaikan gagasan, dan terlibat dalam perubahan sosial,” ujarnya.
Di Pontianak sendiri, jumlah penyandang disabilitas diperkirakan mencapai 800 hingga 1.000 orang. Namun, masih banyak yang belum terdata secara resmi sehingga berpotensi tidak mendapatkan layanan yang layak.
Melalui program ini, Eco Bhinneka Muhammadiyah berharap lahir komunitas-komunitas baru yang mampu menjadi penggerak lingkungan sekaligus memperjuangkan inklusi sosial di tingkat lokal.
“Harapan kami sederhana tidak ada lagi stigma terhadap teman-teman disabilitas. Mereka bukan objek bantuan, tetapi mitra dalam membangun masa depan yang lebih berkelanjutan,” pungkas Intan Mustikasari.
Bagi Eco Bhinneka Muhammadiyah, keberlanjutan bumi tidak hanya ditentukan oleh upaya konservasi semata, tetapi juga oleh seberapa luas masyarakat dilibatkan dalam gerakan tersebut. Karena itu, GreenAbility membawa pesan sederhana namun kuat, menjaga bumi adalah tanggung jawab bersama dan masa depan berkelanjutan hanya dapat tercapai ketika tidak ada satu pun yang tertinggal.
Redaksi







