Awalnya aksi berlangsung damai, namun beberapa saat kemudian massa dan petugas Satpol PP Sultra mulai bersitegang. Persitegangan dipicu saat massa yang akan membakar ban dihalangi oleh Satpol PP yang ada di lokasi.
Beberapa ban yang rencana dibakar diambil dan diamankan petugas. Aksi dorong-dorongan pun terjadi. Massa juga nampak membuat baris serta lingkaran, agar petugas tak bisa menahan mereka saat akan membakar ban.
Ketika pendemo berhasil membakar ban, salah seorang aparat kepolisian terlihat membawa salah satu alat yang akan digunakan untuk memadamkan api. Massa yang geram terlibat gesekan dengan Satpol PP dan aparat kepolisian, beberapa diantaranya adu mulut, saling dorong bahkan kejar-kejaran.
Koordinator Lapangan, Wawan Soniangkano mengatakan, aksi tersebut dilakukan karena pihaknya menduga ada keterlibatan Gubernur Ali Mazi dalam pemilihan Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Sultra.
Pasalnya, satu-satunya calon yang dinyatakan lolos berkas adalah Alfian Taufan Putra yang tak lain adalah anak gubernur.
“Hari ini dia (Ali Mazi) mencoba menggiring kembali anaknya di HIPMI. Jadi saya mau sampaikan seperti ini, anak seusia Alfin tidak layak memimpin HIPMI,” tegasnya kepada media.
Wawan menambahkan, masih banyak kader-kader dan pemuda yang mempunyai potensi, serta paham organisasi untuk menahkodai HIPMI Sultra.
Jangan hanya karena dia (Alfin) anak Gubernur Sultra, mau seenaknya memasukan dan mengambil alih beberapa organisasi kepemudaan di Sultra. Khawatirnya, organisasi-organisasi itu vakum apalagi dipimpin oleh yang dinilai tak memiliki pengalaman organisasi.
“Kami menolak Alfin memimpin HIPMI Sultra,” pungkasnya.
Penulis: Herlis Ode Mainuru







