tirtamedia.id – Ujian final motorik, yang diikuti 108 mahasiswa Jurusan Penjaskes, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Universitas Halu Oloe (UHO) Kendari, di Pantai wisata Batu Gong, Kecamatan Lalonggasumeeto, Kabupaten Konawe, berujung petaka.
10 dari 108 mahasiswa itu, dihantam ombak saat berenang di perairan Batu Gong, pada Minggu (11 Juli 2021) sore. Satu orang Muh Fairuz Nisam, meninggal dunia, dua orang salah satunya warga masih dalam pencarian.
Menurut Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan (KPP) Kendari, Aris Sofingi, para mahasiswa itu berada di pintu dua Pantai Batu Gong, hendak turun ke laut untuk berenang. Namun karena kondisi ombak diperkirakan 2 meter, membuat para mahasiswa itu hanyut.
“Warga setempat dan beberapa teman korban yang melihat kejadian itu langsung mengambil langkah untuk menolong. Namun, menurut informasi salah satu warga bernama Muh Akhir, yang ikut menolong justru ikut terseret ombak dan belum ditemukan sampai saat ini,” ungkapnya.

Aris menyebutkan, delapan mahasiswa yang selamat langsung dibawa ke Rumah Sakit (RS) dr Ismoyo Kendari, untuk mendapatkan penanganan medis. Sementara, Muh Fairuz Nisam, tidak dapat tertolong dan dinyatakan meninggal dunia di rumah sakit.
Aris mengaku, informasi mahasiswa terseret ombak, pertamakali diterima, dari salah satu pengunjung bernama Rasman, sekira pukul 16.45 Wita.
“Bahwa telah terjadi kondisi membahayakan jiwa manusia, yang mana ada sekira 11 orang wisatawan yang terseret air di Pantai tersebut (Batu Gong). Berdesarkan informasi itu, tim Rescue langsung dikerahkan menuju lokasi untuk memberikan bantuan SAR,” tutupnya.
# Pihak Kampus Tak Pernah Berikan Izin
Pihak kampus UHO Kendari, rupanya tidak mengetahui kegiatan 108 mahasiswa Penjaskes FKIP di Pantai Batu Gong, pada Minggu (11 Juli 2021).
Ketua Jurusan Penjaskes, La Sawali mengaku, mengetahui kejadian tersebut dari group WhattsApp, yang ramai membahas adanya mahasiswa UHO, mengalami kecelakaan di Pantai Batu Gong.
“Habis magrib itu saya baca group sudah rame, saya telepon dosennya tapi tidak diangkat. Saya tanya di group lagi, itu angkatan berapa. Kata mahasiswa di group mereka angkatan 2019,” tutur Sawali.
Usai memastikan, Sawali, langsung menghubungi Ketua Tingkat (Keting) kelas A angkatan 2019. Namun jawabannya, juga tidak mengetahui kejadian itu.
“Dia tidak tahu, karena katanya masih berada di Raha. Saya hubungi lagi Keting kelas B dan dia mengakui itu adalah angkatannya. Dari situ, saya langsung interogasi mahasiswa, atas inisiatif siapa sehingga berani mengikuti kegiatan itu. Apalagi ini dalam suasana pandemi Covid-19,” ucapnya.
Sawali menjelaskan, dari keterangan mahasiswa yang ia kumpulkan, kegiatan itu diselenggarakan atas arahan salah seorang dosen, untuk mengikuti final mata kuliah belajar motorik.
Sawali menyayangkan tindakan gegabah dosen tersebut. Terlebih, katanya, kegiatan akademik mahasiswa saat ini, harusnya dilakukan secara daring, dan tidak boleh dilakukan secara tatap muka.
“Apalagi sudah ada larangan dari pihak Universitas (UHO) sendiri. Kalau yang ikut kegiatan itu sekira 108 orang. Terdiri dari 48 orang dari kelas A, 50 orang dari kelas B, dan 10 orang senior. Mereka juga ini takut kalau tidak hadir karena mau final,” ujarnya.
Tidak sampai di situ, dosen tersebut, juga tidak melakukan koordinasi dengan penanggungjawab mata kuliah. Bahkan, mahasiswa yang hadir harus menyetorkan uang senilai Rp50 ribu, biaya operasional.
# Tak Ada Ujian Final
Fakta lain yang diungkap La Sawali, dalam kejadian yang menimpa mahasiswanya, yakni tidak adanya praktek mata kuliah dilakukan di Pantai tersebut.
Ia menyebut, setibanya di Pantai, cuaca sedang hujan, mahasiswa tidak melakukan praktik sesuai mata kuliah yang dosen itu janjikan.
“Sampai di sana mereka bakar ikan, kemudian makan. Habis makan ada yang mandi, ada yang main bola, sampai muncul kejadian itu,” bebernya.
Sawali kesal dan menyebut, kegiatan itu hanya rekreasi diinisiasi dosen dan mengajak mahasiswa. Final mata kuliah, disebut Sawali, hanya dalih untuk mengundang minat mahasiswa.
“Saya sudah telpon, WA tapi belum direspon. Kita akan panggil dosen yang bersangkutan,” kata Sawali.
Hingga Senin (12 Juli 2021), tim rescue KPP Kendari, dibantu Kepolisian masih melakukan pencarian terhadap dua orang yang dinyatakan hilang. Pada hari kedua pencarian, Tim SAR Gabungan, mengerahkan 3 tim pencari disebar pada dua arah berbeda.
“Kita kerahkan dua tim menyisir arah utara sekira 2 nautical mile dan satu tim ke arah selatan sekira 2 nautical mile. Kita juga kerahkan satu tim untuk menyisir bagian daratan sepanjang 2 kilometer,” ungkap, Kepala KPP Kendari, Aris Sofingin.
Penulis: Fahmi







