KENDARI, tirtamedia.id – Kualitas daya pikir seseorang sangat dipengaruhi oleh pengetahuan yang dimiliki. Diskusi menjadi salah satu instrumen utama dalam meningkatkan kualitas daya pikir ini, karena memungkinkan setiap individu untuk bertukar dan memperkaya pengetahuan. Diskusi juga berfungsi sebagai bentuk konsolidasi massa, sebuah taktik strategis dalam membangun pemahaman kolektif.
Proses literasi dan pembacaan fenomena sosial berperan sebagai nutrisi bagi otak. Seperti halnya tubuh yang membutuhkan gizi untuk tetap sehat, otak membutuhkan asupan pengetahuan agar tetap tajam. Mengurangi aktivitas literasi sama saja dengan mengurangi gizi otak, yang pada akhirnya berisiko menimbulkan “kelumpuhan” berupa ketidakmampuan dalam memahami.
Di era digital 5.0 saat ini, kemajuan teknologi informasi dan komunikasi berkembang pesat, mempengaruhi berbagai aspek kehidupan, terutama pendidikan. Kemajuan ini menghadirkan peluang dan tantangan baru bagi masyarakat. Jika tidak diimbangi dengan literasi yang baik, teknologi justru dapat membawa dampak negatif, seperti penyebaran hoaks, bullying, dan isu-isu SARA yang mengemuka di ruang publik.
Perkembangan teknologi ini perlu difilterisasi dengan bijak agar dampak negatifnya dapat diminimalisir. Namun di sisi lain, kemajuan ini juga bisa menjadi sarana untuk meningkatkan kualitas masyarakat melalui pengetahuan dan informasi. Saya yakin, gerakan literasi akan terus berkembang seiring upaya kecil yang dilakukan secara konsisten, membentuk karakter bangsa yang kuat dan beradab.
Pelatihan membaca, diskusi, aksi, dan menulis menjadi esensial di era keterbukaan informasi ini, di mana kemampuan literasi adalah benteng terhadap penyebaran informasi yang tidak benar. Data Human Development Index (HDI) menunjukkan bahwa budaya baca di Indonesia masih rendah, menempati peringkat ke-112 dari 175 negara. Ini menjadi refleksi bahwa standar hidup dan kualitas pendidikan di Indonesia masih perlu ditingkatkan untuk menghadapi modernisasi dan globalisasi yang kian pesat.
Para intelektual dan pencinta ilmu dituntut untuk konsisten dalam menjaga serta mengaktualisasikan ilmu di tengah derasnya budaya populer yang mereduksi esensi pengetahuan. Pustaka buku, budaya membaca, dan menulis menjadi cara agar ilmu tersebut tidak cepat terlupakan.
Kita juga tidak bisa mengabaikan adanya kapitalisme dalam dunia pendidikan, yang terkadang dimainkan oleh oknum pengajar demi keuntungan pribadi. Situasi ini menuntut kita untuk terus berpikir kritis dalam merespons praktik-praktik yang menyimpang dari tujuan pendidikan sejati.
Budaya literasi tidak boleh tergilas oleh modernisasi, karena membaca memiliki manfaat besar dalam memperdalam pengetahuan. Warisan ide dan gagasan dari generasi sebelumnya dalam bentuk tulisan telah melampaui zaman dan menjadi bekal bagi kita saat ini.
Di tengah kondisi bangsa yang sarat tantangan, budaya baca dan literasi sangatlah penting. Para tokoh pejuang dan pemikir bangsa ini telah meninggalkan catatan penting dalam sejarah. Pertanyaannya adalah, apa yang kita lakukan untuk melanjutkan cita-cita dan harapan mereka dalam membangun masyarakat yang adil dan beradab?
Sebagai mahasiswa, kita memiliki tanggung jawab untuk terus belajar dan mempertahankan budaya literasi. Buku adalah laboratorium dan jendela dunia, yang telah membuktikan diri sebagai pilar kemajuan berbagai peradaban besar.
Budaya literasi di kalangan pemuda dan mahasiswa saat ini tergerus oleh arus individualisme dan mahalnya akses buku, sehingga banyak yang abai pada pentingnya membaca. Padahal, kebiasaan membaca memberikan bekal ide, gagasan, dan wawasan intelektual untuk kehidupan masa depan.
Dalam pandangan Islam, surah Al-Alaq 96:1 menyerukan umat Islam untuk membaca dan menghayati ciptaan Tuhan. Di tengah modernisasi, seorang cendekiawan harus memiliki ilmu pengetahuan untuk membangun peradaban dan kehidupan yang lebih baik, sebagai wujud tugas manusia sebagai khalifah yang menjaga bumi dari kerusakan.
Di era modern, mahasiswa perlu memiliki budaya literasi yang kuat sebagai bekal untuk bersikap kritis, metodologis, progresif, dan kreatif dalam menghadapi fenomena kehidupan. Jika mahasiswa mengalami degradasi budaya literasi, dampaknya akan terasa pada masa depan bangsa ini, karena mereka adalah calon pemimpin di masa mendatang.
Sebagai mahasiswa dan masyarakat yang berpikir ilmiah, kita harus terus berjuang dan belajar demi masa depan yang lebih baik.
Penulis: Rasmin Jaya, Ketua DPC GMNI Kendari







