KONAWE SELATAN, Tirtamedia.id – Personel Korps Bhayangkara yang bertugas di Subdit I Dit Intelkam Polda Sultra, AIPDA La Onta Rahafa mendirikan Lembaga Pendidikan Al-Quran (LPA) di Desa Laikaaha, Kecamatan Ranomeeto, Kabupaten Konawe Selatan (Konsel), Sulawesi Tenggara (Sultra).
Tempat pengajian tersebut diberi nama LPA Al-Hidayah. Visi dari pada LPA Al-hidayah ini adalah membentuk generasi muslim yang berilmu pengetahuan agama dan berakhlak yang baik. Sedangkan misinya adalah menanamkan sejak usia dini dasar keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya
Pantauan media ini, La Onta Rahafa mulai membuka jadwal pengajian sejak pukul 16.00 WITA. Sekelompok anak-anak yang mengaji berdatangan sembari membawa Al-Quran dan beratribut muslim lainnya. Dengan rapi, mereka duduk sambil membaca ayat-ayat suci tersebut.
Selain itu, ia juga memberikan nasehat-nasehat kepada anak didiknya. Puluhan anak-anak ini nampak antusias ikut pengajian itu. Selain membawa ayat-ayat, mereka juga diuji dengan seberapa banyak hafalan Al-Quran serta doa-doa shalat.
Kepada media ini, La Onta Rahafa mengatakan sejak Juni 2018, ia mulai mengumpulkan anak-anak itu satu persatu untuk diajarkan huruf hijaiyah (Al-Quran). Setelah masuk tahun berikutnya yakni tahun 2019 anak-anak santri mulai bertambah banyak jumlahnya sampai 70 orang.
Untuk mengajar membaca Al-Quran kepada anak didiknya, ia dibantu kedua putranya sebagai guru ngaji.
“Kita ajarkan di sini bacaan Al-Quran secara baik dan benar serta mendidik santri agar fasih membaca Al-Quran,” tutur AIPDA La Onta Rahafa saat ditemui di lokasi, Jumat (15/4/2022).
Selain untuk mendekatkan diri kepada masyarakat, ia membangun LPA ini agar akhlak dan moral anak-anak di zaman serba digital ini dapat mempengaruhi ke hal-hal positif.
“Hal ini yang mendorong saya selaku penegak hukum peka terhadap keadaan lingkungan sekitar guna membangun karakter anak untuk memahami dan mempelajari agama serta menjadi teladan bagi masyarakat dan memberikan manfaat yang baik kepada orang lain sekitarnya,” ungkapnya.
Ia mengaku, tantangan yang dihadapi selama mendirikan LPA ini adalah ketika anak-anak itu harus diberhentikan dari keramaian karena wabah virus Corona yang melanda hampir di seluruh dunia. Namun di akhir tahun 2021 anak-anak mulai beraktifitas melakukan pengajian seperti sebelumnya.
Untuk sumber dana awal pembangunan LPA ini sendiri, ia mengaku menyisihkan sebagian gaji yang diperoleh serta dibantu oleh sang istri yang berjualan di kios. Bahkan, beberapa tahun terakhir ini ia dibantu rekan-rekan Polri seangkatannya Alumni Dikmaba Angkatan XIX Tahun 2000 (DTT-SMDE).
“Sumber dananya dari gaji yang saya sisipkan, dibantu sama istri dari hasil jualan dan teman-teman seangkatan saya,” katanya.
Penulis: Herlis Ode Mainuru







